MENJAGA RASA MALU
RASA malu yang dimaksud disini adalah malu yang muncul karena sifat sombong. 1 Misalnya, seseorang malu ikut jamaah dengan masyarakat awam, karena merasa bahwa dirinya seorang pembesar. Untuk mencapai Tuhan , sifat malu yang tidak benar seperti ini harus dibuang. Dalam syairnya, Umar ibn Farid menyatakan:
" Peganglah ujung tali Allah
Buanglah rasa malu
Lepaskan untuk menuju jalan tuhan
Walau tinggi kedudukanya".
Untuk menghilangkan rasa malu tersebut, Syeh Muhammad memerintahkan para muridnya untuk berdzikir keras-keras di pasar, jalan-jalan dan tempat-tempat kosong. Dzikirlah di tempat-tempat itu -dengan keras - sehingga kelak akan menjadi saksi untukmu. Teroboslah rahasia nafsu dan hancurkanlah rasa malu. Tanpa bisa menundukan nafsu dan kesombongan, kamu tidak akan pernah sampai pada hadlirat Ilahi".
RASA malu yang dimaksud disini adalah malu yang muncul karena sifat sombong. 1 Misalnya, seseorang malu ikut jamaah dengan masyarakat awam, karena merasa bahwa dirinya seorang pembesar. Untuk mencapai Tuhan , sifat malu yang tidak benar seperti ini harus dibuang. Dalam syairnya, Umar ibn Farid menyatakan:
" Peganglah ujung tali Allah
Buanglah rasa malu
Lepaskan untuk menuju jalan tuhan
Walau tinggi kedudukanya".
Untuk menghilangkan rasa malu tersebut, Syeh Muhammad memerintahkan para muridnya untuk berdzikir keras-keras di pasar, jalan-jalan dan tempat-tempat kosong. Dzikirlah di tempat-tempat itu -dengan keras - sehingga kelak akan menjadi saksi untukmu. Teroboslah rahasia nafsu dan hancurkanlah rasa malu. Tanpa bisa menundukan nafsu dan kesombongan, kamu tidak akan pernah sampai pada hadlirat Ilahi".
Catatan:
1 Malu untuk melakukan sesuatu yang didasarakan atas kesombongan, kecongkakan dan sejenisnya memang dilarang oleh agama. Akan tetapi, kalau malu untuk melakukan perbuatan maksiat, maka itu termasuk bagian dari iman.
Lebih jelas tentang ini, Rasul pernah menyatakan, " Malulah kalian kepada Allah". Para sahabat berkata, " kami telah malu ". " Bukan demikian ". jawab Rasul. " Malu kepada Allah yang sesungguhnya adalah menjaga kepala dari pikiran-pikiran yang tidak benar ; menjaga perut dari makanan yang tidak halal; menjaga kemaluan, kaki dan tangan dari perbuatan-perbuatan yang tidak benar".
1 Malu untuk melakukan sesuatu yang didasarakan atas kesombongan, kecongkakan dan sejenisnya memang dilarang oleh agama. Akan tetapi, kalau malu untuk melakukan perbuatan maksiat, maka itu termasuk bagian dari iman.
Lebih jelas tentang ini, Rasul pernah menyatakan, " Malulah kalian kepada Allah". Para sahabat berkata, " kami telah malu ". " Bukan demikian ". jawab Rasul. " Malu kepada Allah yang sesungguhnya adalah menjaga kepala dari pikiran-pikiran yang tidak benar ; menjaga perut dari makanan yang tidak halal; menjaga kemaluan, kaki dan tangan dari perbuatan-perbuatan yang tidak benar".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar